Saturday, August 27, 2016

Peran Ayah dalam Mendidik Anak

 
1Dengarkanlah, hai anak-anak, didikan seorang ayah , dan perhatikanlah supaya engkau beroleh pengertian, 2karena aku memberikan ilmu yang baik kepadamu; janganlah meninggalkan petunjukku.3Karena ketika aku masih tinggal di rumah ayahku sebagai anak, lemah dan sebagai anak tunggal bagi ibuku, 4aku diajari ayahku, katanya kepadaku: "Biarlah hatimu memegang perkataanku; berpeganglah pada petunjuk-petunjukku, maka engkau akan hidup.
Amsal 4:1-4

Ayah memiliki peran yang sangat penting di dalam pendidikan anak.  Di tengah zaman modern ini dimana kebutuhan dapur dan meja makan menjadi nomor satu, ayah seringkali absen dari pendidikan anak.  Ayah bangun pagi sekali untuk berangkat bekerja.  Pagi jauh sebelum anak bangun.  Dan sepanjang hari ayah bekerja.  Larut malam ayah baru pulang dari bekerja.  Waktu ayah sampai di rumah anak sudah tidur.  Setiap hari kerja anak tidak pernah bertemu dengan ayah.  Tidak ada interaksi antara ayah dan anak.  Waktu akhir minggu ayah baru bisa bertemu dengan anak.  Dan pada saat itu ayahpun ingin libur dari bekerja.  Kebanyakan hanya ingin bersenang-senang.  Maka interaksi ayah dan anak hanya terjadi sebatas bersenang-senang.  Makan di resto, main di mall, nonton bioskop, belanja, dan seterusnya.  Tetapi tidak terjadi interaksi serius dimana ada proses pendidikan yang sungguh-sungguh terjadi.  Tidak ada transfer pengetahuan dan keahlian, apalagi transfer pandang semesta (world view) dari ayah kepada anak.  Tidak juga ada proses pembentukan karakter anak yang dikerjakan oleh ayah.  Sebab sepanjang ayah pergi, biasanya ibu yang memang peran penting di dalam pendidikan anak.  Tetapi jika melihat laju kehidupan modern ini, bahkan ibu pun tidak ada di rumah.  Karena baik ayah dan ibu, dua-dua nya pergi bekerja.  Anak-anak di rumah bersama dengan inang pengasuh saja.  Kalau anak sudah usia sekolah, maka anak menghabiskan 7-8 jam di sekolah bersama orang lain yang kita sebut secara formal sebagai guru.  Padahal otoritas utama dan pertama dan alamiah diberikan Tuhan kepada orang tua.  Tetapi struktur kehidupan modern membuat ayah absen dari kehidupan anak.
Di dalam kondisi absen tersebut, sangatlah sulit mengharapkan ayah menegakkan disiplin, mendidik anak untuk tetap berada pada koridor yang benar.  Sebab anak tidak lagi mengenal ayahnya.  Pelan-pelan otoritas ayah menjadi luntur.  Dan ayah tidak lagi memiliki keberanian untuk bersikap tegas kepada anak.  Karena ayah tidak bertemu anak dalam waktu lama, maka ada tumbuh rasa bersalah dalam diri ayah.  Dan rasa bersalah ini diekspresikan dengan cara memberikan apapun yang anak mau.  Dengan demikian maka ayah akan merasa lebih lega karena rasa bersalahnya dikurangi.  Tetapi justru hal ini menumpuk kepincangan dalam pendidikan.  Ayah yang seharusnya menjadi sosok ketegasan dan disiplin malah menjadi lembek karena rasa bersalah.  Maka terjadilah penumpukan masalah dalam pendidikan anak, yang implikasinya ada berjuta-juta kasus negatif yang muncul dari konteks seperti ini.

Alkitab memberikan hikmat secara umum sesuai dengan pengertian universal yang berpusat pendidikan ilahi, yaitu bahwa didikan ayah memberikan hidup bagi anaknya: “Biarlah hatimu memegang perkataanku; berpeganglah pada petunjuk-petunjukku, maka engkau akan hidup.”  Petunjuk-petunjuk dan perkataan ayah memiliki kepentingan pendidikan yang membawa anak-anak memiliki hidup.  Secara alamiah ada naluri dasar yang diberikan oleh Tuhan kepada semua ayah untuk memberikan petunjuk kepada anak-anaknya yang bertujuan kebaikan bagi mereka.  Kita patut bersyukur atas naluri alamiah yang diberikan Tuhan ini kepada kita.  Tetapi naluri alamiah seperti ini harus dipelihara.  Jika tidak dipelihara maka naluri alamiah itu akan mati.  Apa yang terjadi dengan kehidupan modern adalah proses mematikan naluri alamiah tersebut secara perlahan.  Ketika ayah absen dalam kehidupan anak, dan proses pendidikan tidak berlangsung dengan seharusnya, maka anak-anak tidak lagi mendapat instruksi yang memimpin kepada kehidupan.  Setiap anak pasti haus akan instruksi.  Maka jika dia tidak mendapatkan dari ayahnya, harus ada kompensasi dari situasi tersebut.  Anak biasanya akan mengabsorbsi instruksi-instruksi yang lain, entah dari mana asalnya.  Ini adalah naluri alamiah dari anak.  Siapapun yang dianggap oleh dia sebagai orang yang lebih dewasa dan bisa memberikan instruksi akan menjadi sumber instruksi yang akan didengarkan oleh anak.  Disini potensi krisis sangat kental sekali.  Sebab anak bisa mendapatkan instruksi yang sama sekali jauh dari firman Tuhan.  Dan jika kita menarik benang merah yang menjadi sebab semua ini, kita mau tidak mau menemukan absennya sang ayah menjadi penyebab utama.

Dengan demikian, ayah semestinya tidak boleh absen dalam hidup anak-anaknya.  Kehadiran ayah sendiri sudah memberikan kehadiran penegakan pendidikan yang tidak dapat diganggu gugat.  Otoritas ayah di dalam hidup anak-anaknya memberikan garis batas mana yang boleh mana yang tidak boleh, mana yang benar mana yang salah, mana yang baik mana yang jahat.  Instruksi-instruksi ayah menuntun hidup anak kepada kehidupan yang seharusnya.  Atas dasar ini semua, peran ayah sangatlah krusial dalam pertumbuhan anak dalam usia berapapun.  Jika Tuhan memberikan kesempatan ayah untuk boleh hidup menyaksikan anak-anaknya bertumbuh, maka tanggungjawab pendidikan oleh ayah kepada anak-anaknya perlu dikerjakan dengan sangat serius.  Karena saya yakin tidak ada satu ayah yang benar di dunia ini yang menginginkan kematian anak-anaknya.

No comments: