Monday, August 29, 2016

Mengarahkan Pergaulan Anak



Mengarahkan Pergaulan Anak

Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.
1 Korintus 15:33

Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.
Amsal 13:20

34Mereka tidak memunahkan bangsa-bangsa, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada mereka,
35tetapi mereka bercampur baur dengan bangsa-bangsa, dan belajar cara-cara mereka bekerja.
36Mereka beribadah kepada berhala-berhala mereka, yang menjadi perangkap bagi mereka.
37Mereka mengorbankan anak-anak lelaki mereka, dan anak-anak perempuan mereka kepada roh-roh jahat,
38dan menumpahkan darah orang yang tak bersalah, darah anak-anak lelaki  dan anak-anak perempuan mereka, yang mereka korbankan kepada berhala-berhala Kanaan, sehingga negeri itu cemar oleh hutang darah.
39Mereka menajiskan diri  dengan apa yang mereka lakukan, dan berzinah dalam perbuatan-perbuatan mereka.
40Maka menyalalah murka TUHAN terhadap umat-Nya, dan Ia jijik kepada milik-Nya  sendiri.
Mazmur 106:34-40

Sejak orang Israel keluar dari Mesir, Tuhan sudah berulang kali mengingatkan supaya mereka tidak bercampur dengan orang-orang di Kanaan.  Ini bukan masalah toleransi atau tidak toleransi dalam hidup masyarakat  yang majemuk.  Ini adalah masalah pengaruh buruk.  Pada masa itu penyembahan berhala ada di semua bangsa yang lain.  Hanya bangsa Israel yang mengenal Allah yang benar.  Cara hidup orang zaman itu ditentukan oleh penyembahan kepada allah mereka.  Pola penyembahan, pengertian mengenai allah mereka, konsep persembahan, dan lain sebagainya adalah dasar dari kehidupan mereka baik secara individu maupun secara sosial.  Kalau allah nya tidak beres maka hidup mereka pun tidak beres.  Karena hanya Tuhan lah Allah yang sejati, maka hanya orang Israel sajalah yang menjalankan kehidupan yang beres.  Allah menjaga kehidupan umatNya sedemikian pelanggaran terhadap hukumNya selalu menemui pengadilan Allah.  Tetapi bangsa-bangsa lain tidak demikian.  Mereka beroperasi di bawah allah yang tidak bisa bicara, yang tidak bisa melihat, yang tidak bisa mendengar, yang tidak bisa berjalan, maka hati mereka adalah hati yang mati.  Dan kepada kehidupan yang sedemikianlah Allah melarang umatNya bercampur.

Terbukti ketika orang Israel mulai bercampur dengan Kanaan setelah Yosua meninggal maka hidup mereka akhirnya menyimpang jauh sekali dari jalan kehidupan dan kebenaran.  Mazmur 106 mencatat dalam summary nya bagaimana umat Tuhan ini “menajiskan diri” dan “berzinah” dengan kehidupan yang melawan Tuhan.  Secara konkrit orang Israel akhirnya bsujud menyembah berhala.  Dan mereka mempersembahkan anak-anak mereka kepada yang bukan Allah, dan anak-anak mereka dibunuh, dibakar, disembelih sehingga darah mereka dicucurkan kepada kerusakan penyembahan kepada allah-allah palsu.  Mereka menumpahkan darah orang yang takbersalah karena mengikuti cara hidup Kanaan.  Maka Allah murka!  Dan Allah menjadi jijik atas umatNya sendiri.  Ini semua dimulai dari pergaulan mereka.  Ini semua diawali dari percampuran mereka dengan bangsa Kanaan, sehingga mereka mulai mentoleransi kehidupan orang Kanaan, dan pada akhirnya mereka sendiri menjadi tertarik dengan cara hidup Kanaan yang melawan Tuhan.  Sampai mereka dengan sadar memilih  jalan hidup Kanaan dan membuang jalan hidup taurat Tuhan.

Paulus memahami hal ini dan dia memberi peringatan kepada jemaat di Korintus bahwa pergaulan yang buruk betul-betul merusak kebiasaan yang sudah baik.  Ini karena jemaat Korintus saat itu mulai meninggalkan pengertian yang benar yang sudah diajarkan oleh Paulus kepada mereka sebelumnya, secara khusus dalam konteks ayat 1 Korintus 15:33 adalah masalah kebangkitan orang mati.  Kelihatannya ada susupan dari kelompok-kelompok tertentu yang tidak mempercayai bahwa Tuhan membangkitkan orang mati.  Di dalam orang Yahudi ada grup Zaduki yang tidak percaya kebangkitan, dan di grup orang Yunani filsafat mereka tidak mengijinkan kepercayaan kepada kebangkitan orang mati.  Pergaulan jemaat Korintus yang akhirnya mentoleransi kepercayaan yang melawan kebenaran Tuhan merusakkan kepercayaan mereka.  Maka Paulus memberikan peringatan.

Penulis Amsal memberikan kejelasan mengenai pergaulan, yaitu jika seseorang bergaul dengan orang bijak maka diapun menjadi bijak, tetapi pergaulan dengan orang bebal (orang yang berjalan dalam jalan yang salah) membawa orang tersebut kepada kehidupan yang hancur.  Dari apa yang sudah diberitakan di Mazmur sebagai summary dari kisah perjalanan orang Israel, dan peringatan dari Paulus kepada jemaat Korintus, serta kesimpulan dari penulis Amsal, maka kita sebetulnya bisa memahami bahwa dalam kehidupan kita sekarang pun maxim ini masih merupakan kebenaran yang takterbantahkan.  Sebagai orang tua kita perlu menyadari kebenaran mutlak ini dan mulai memperhatikan dengan serius dengan siapa anak-anak kita bergaul.  Dan kita tahu bahwa anak-anak rentan untuk dipengaruhi, maka adalah tanggungjawab kita sebagai orang tua untuk menjaga pergaulan mereka.  Secara praktis kita bisa mencarikan komunitas yang sehat, misal komunitas di gereja, komunitas anak-anak yang melayani Tuhan, seperti itu.  Dan yang di abad 21 ini yang sangat perlu dicermati adalah komunitas dunia maya.  Bagi saya, belajar dari peringatan di Alkitab, dan bagaimana progress di dunia saat ini perihal komunitas dan pergerakan dunia maya, maka menurut hemat saya lebih baik anak dibatasi sebanyak mungkin interaksi di dunia maya.  Dunia maya adalah dunia yang paling sulit dikontrol oleh siapapun saat ini.  Informasi, site, yang tidak kita inginkan bisa tiba-tiba muncul di layar kita hanya karena kita menuliskan keyword yang dikenali di dunia maya menempatkan informasi dan site tersebut.  Belum lagi dengan kebebasan perilaku tidak bertanggungjawab yang saat ini marak bertebaran di dunia maya, yaitu yang dikenal sebagai cyber-bullying.  Maka sebaiknya jangan membiarkan anak membuat account di facebook, twitter, instagram, dan hal serupa di bawah usia 18 tahun.  Bahkan sebetulnya social media site demikian juga memberikan batasan usia mereka-mereka yang boleh sign up, biasanya 18 tahun ke atas.  Sementara itu orang tua perlu terus mendampingi anak ketika mereka berinteraksi dei dunia maya.  Latih dan biasakan mereka untuk bergaul dengan anak-anak lain yang masuk kategori anak “bijak.”  Kalau saya pribadi, saya sebisa mungkin mengarahkan anak saya bergaul dengan anak Tuhan.  Keterbukaan orang tua dan anak penting sehingga anak boleh cerita kepada orang tua atas interaksinya dengan anak-anak lain.  Bila ada red-flag yang secara intuisi kita rasakan, maka jangan tunda untuk menginvestigasi.  Jangan sampai anak kita terjerumus ke dalam perilaku yang berbahaya, drugs, free-sex dan lain-lain (khususnya ketika anak mulai masuk usia pree-teen dan teen).  Termasuk jika anak kita bergaul dengan anak yang secara ideologi melawan Tuhan, maka orang tua perlu hati-hati untuk membentengi anak sendiri supaya tidak terpengaruh dan akhirnya mentoleransi, lalu mengadopsi pikiran-pikiran yang melawan Tuhan.  Intinya, orang tua perlu peduli dan serius campur tangan akan pergaulan anak-anaknya.  Penulis Amsal, Amsal 1:8-19, memberikan wejangan kepada anaknya untuk tidak mengikuti dan bergaul dengan orang-orang yang jahat.  Demikian kita sebagai orang tua juga perlu menjaga anak-anak kita supaya mereka tidak bergaul dengan orang bebal, jahat, melawan Tuhan, tetapi justru bergaul dengan orang-orang yang bijak, baik, dan mengasihi Tuhan.

No comments: