Saturday, August 27, 2016

Baby Sitter or No Babysitter



 6Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, 7haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.  8Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, 9dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.
Ulangan 6:6-9

Perintah Tuhan kepada Musa adalah supaya para orang tua mendidik anak-anaknya.  Tanggungjawab pendidikan anak ada di pundak orang tua, bukan pada orang lain.  Orang tua harus menyadari bahwa setiap interaksi anak dengan lingkungannya atau dengan orang di sekitarnya selalu memiliki potensi pendidikan.  Pengertian ini diperjelas oleh John Dewey dalam diksusi soal educative dan miseducative experience.  Tetapi sebetulnya Konghucu sudah pernah mengatakan perihal pengaruh ini yaitu ketika Konghucu mengatakan bahwa ketika dia berjalan dengan dua orang, dua orang tersebut menjadi seperti guru bagi dia, tetapi Konghucu mengambil yang baik dan belajar darinya, dan membuang yang buruk.  Aplikasi pengajaran Konghucu sangat berguna bagi mereka yang sudah memiliki pikiran yang solid seperti Konghucu sendiri.  Implikasi ajaran Konghucu adalah bahwa anak-anak yang notabene belum punya pikiran yang solid, tidak akan bisa menyortir pengaruh baik atau buruk, tetapi semakin muda anak justru akan mengabsorbsi semuanya baik ataupun buruk.  Maka karena ada dua macam educative experience, yang pertama yang educative (yang baik) dan yang kedua adalah miseducative (yang buruk), orang tua tidak boleh membiarkan anak dipengaruhi hal yang buruk.  Oleh karena itu orang tua perlu memperhatikan pengalaman macam apa yang kira-kira akan anaknya alami?  Termasuk apakah anaknya akan “diasuh” oleh babysitter (suster) atau tidak.


Trend di kalangan menengah ke atas di Indonesia adalah menyerahkan anak kepada suster sementara orang tua boleh memiliki sedikit kebebasan untuk bekerja (alasan utama), memiliki “me time,” bersosialisasi, beristirahat, dan meringankan beban mengasuh anak.  Maka jika anak, misal dalam satu bulan pertama khususnya, bangun tengah malam perlu diganti popoknya, bukan orang tua yang bangun, tetapi susternya yang bangun mengganti popoknya.  Dalam satu kasus ini saja kita bisa melihat bahwa hal seperti mengganti popok ini dianggap bukan hal penting untuk keterlibatan orang tua, selain orang tua mengeluarkan uang untuk membeli popok.  Sebab mengganti popok hanya dipandang sebagai hal fisik yang diperlukan bayi dan tetapi mengganggu ritme hidup orang tua.  Pandangan seperti ini kehilangan esensi kedekatan orang tua dan anak yang akan sangat penting sebagai modal pendidikan anak.  Sebab orang tua sendiri, pertama, perlu belajar mengenal anaknya.  Tanpa “guru” mengenal “murid” maka pendidikan tidak akan berjalan dengan baik.  Tidak mengganti popok anak sendiri membawa kepada void dalam pengenalan anak mulai dari awal.  Hal ini kelihatan sepele, tetapi sebetulnya sangat kritis.  Kedua, bagi anak sendiri, dia jadi tidak mengenal orang tuanya sebab tiap malam, entah berapa kali semalam, orang tua tidak pernah ada di sana mengganti popoknya.  Anak tidak mendengar suara orang tua yang berusaha berkomunikasi dengannya atau berusaha menenangkannya.  Anak juga tidak merasakan sentuhan orang tuanya ketika membersihkan pantatnya, menggendongnya, menyanyikan lullaby, meletakkannya kembali di tempat tidur, lalu mencium dahinya atau pipinya.  Semua void itu memiliki akibat.  Dan akibatnya akan bersifat akumulatif.  Sebab posisi orang tua digantikan oleh suster, dimana susterlah yang jadi lebih mengenal anak, dan anak jadi lebih mengenal suster.  Dan ini secara khusus terjadi justru di usia yang sangat berharga sekali, 0-2 tahun.  Tiap keputusan ada harga yang harus dibayar.  Keputusan menyerahkan penggantian popok kepada suster di tengah malam sehingga orang tua bisa tetap tidur (biasanya bukan hanya tengah malam, tetapi juga setiap ganti popok), harganya adalah hilangnya pengenalan orang tua-anak.  Keputusan mengganti sendiri popok sendiri juga ada harganya, yaitu tidur yang terganggu, rasa capek dan lelah, serta interupsi-interupsi dari ritme kebiasaan.

Soal popok tadi hanyalah salah satu dari sekian banyak aktifitas lain yang terjadi secara alamiah, misal mandi, makan, menggendong, atau memegangi waktu belajar berjalan.  Semua aktifitas tersebut adalah kesempatan pengenalan orang tua-anak.  Jika semua aktifitas tersebut diserahkan kepada suster, maka kesempatan tersebutpun akan hilang.  Yang terjadi adalah pengenalan suster-anak.  Secara tidak disadari terjadi pengaruh suster terhadap anak yang cukup besar.  Transfer pengetahuan dan kebiasaan pun akan terjadi secara tidak disadari hanya karena suster berinteraksi lebih banyak dan lebih lama dengan anak.  Justru ini terjadi ketika anak dianggap tidak punya pengertian.  Padahal masa-masa anak belum bisa berinteraksi secara intelligible dengan bahasa kompleks adalah masa prime-time anak mengabsorbsi semua yang dapat ditangkap dengan sensori dia.  Jika orang tua menyadari apa yang mereka kehilangan, maka mereka akan berpikir ribuan kali sebelum menyerahkan anak untuk diasuh oleh suster.  Sebab implikasi pengaruh suster kepada anak tidaklah dengan mudah dapat dihapus.  Belum lagi rasa kehilangan anak atas orang tuanya yang tidak banyak berinteraksi dengan dia pada saat dia masih sangat kecil, tidak akan bisa dihapus dari alam bawah sadarnya.  Rasa itu akan tetap ada di sana.  Ini kita belum berbicara mengenai rasa aman, nyaman, dan lain-lain.

Pendidikan otomatis tidak dapat disalurkan dengan baik dari orang tua kepada anak karena waktu interaksi menjadi sempit dengan adanya suster yang mengurus hal-hal dasar kebutuhan anak.  Mengapa?  Karena pengurusan hal-hal dasar kebutuhan anak ini menyita waktu hampir seluruh waktu anak ketika anak masih di bawah 5 tahun.  Bahkan untuk waktu bermain pun susterlah yang seringkali lebih banyak hadir bagi anak.  Waktu 5 tahun pertama itu dilabeli oleh semua ahli pertumbuhan dan perkembangan anak sebagai waktu emas anak.  Maka kalau waktu emas itu hilang dari keterlibatan orang tua, maka orang tua akan kehilangan modal yang sangat penting sekali dalam pendidikan anak.  Di kedepannya akan mengalami lebih banyak kesulitan dalam mendidik anak.  Apalagi dengan adanya sekolah yang bisa berfungsi sebagai tempat penitipan anak, sehingga orang tua bisa berkonsentrasi dengan apa yang mereka mau lakukan saja.  Masa 18 tahun akan hilang dalam sekejap mata.  Dan kalau sudah hilang tidak akan kembali.  Maka perintah Tuhan untuk mendidik anak lewat begitu saja tanpa orang tua ada kesempatan berharga menanamkan taurat Tuhan dalam diri anak.  Ini terjadi karena kesempatan di waktu emas dilewatkan dan kurang dianggap serius.  Kurang dianggap serius sebab dianggap interaksinya hanyalah sebatas interaksi fisik yang praktis tanpa ada muatan pendidikan di sana.  Padahal semua interaksi fisik praktis tersebut mengandung muatan pendidikan yang sangat dalam dan mendasar, khususnya bagi anak-anak yang masih kecil.  Setiap kesempatan sangatlah berharga.  Misal saja ketika anak sudah bisa makan makanan keras, anak mulai melihat beragamnya makanan dia, ada yang warna oranye, ada yang hijau, ada yang putih, ada yang kuning, dan lain-lain.  Itu adalah kesempatan orang tua bisa berkomunikasi kepada anak tentang apa saja yang dimakan anak.  Orang tua bisa menceritakan bahwa yang warna oranye itu adalah wortel, dan wortel mengandung banyak vitamin, khususnya vitamin A, yang baik untuk pertumbuhan, dan khususnya baik untuk mata.  Hijau adalah dari sayur-sayuran seperti brokoli yang banyak mengandung zat besi yang sangat baik untuk kesehatan darah.  Dan seterusnya.  Belum lagi cerita-cerita dongeng atau bahkan cerita biografi diri orang tua atau juga cerita-cerita Alkitab bisa diceritakan ke anak selagi anak itu makan.  Terlalu banyak disebutkan satu persatu di sini.  Tetapi ini adalah ilustrasinya.

Maka jika kita mau simpulkan, suster atau tidak?  Pikirkanlah mengenai hal-hal diatas yang sudah kita bahas.  Pikirkan tentang kedekatan orang tua-anak.  Pikirkan soal pengenalan orang tua-anak.  Pikirkan semua itu karena itu adalah modal pendidikan anak.  Pikirkan soal waktu emas, kesempatan tak ternilai yang dapat lenyap dengan sekejap mata.  Akankah kau serahkan semua itu kepada suster, sehingga susterlah yang mendapat kesempatan mempengaruhi/mendidik anakmu di usia emas?  Saya berdoa supaya para orang tua diberi bijaksana dari sorga untuk mengambil keputusan yang tepat dan boleh menjadi saluran berkat Tuhan bagi anak-anak di dalam pendidikan mereka supaya mereka boleh berdiri teguh dan berjalan di atas taurat Tuhan.

No comments: